Symplexcamp's Corporation

Persembahan Hati Dari Jiwa Seorang Petualang

KALAMAKARA??OPO KUI???

KALAMAKARA????

Pertama kali denger kata itu bagi orang awam terasa asing. Penulis sendiri saat denger kata itu “KALA” pasti langsung mengasumsikan sesuatu yang berbau candi dan pertama kali terpikir di otak saya KALA identik dengan BUTO KOLO itu mengingatkan ku pada sebuah dongeng dari mulut ke mulut tentang Kata BUTO KALA (Baca BUTO KOLO) yang memakan Bulan jika terjadi gerhana bulan. Gak salah memang asumsi soal kata asing KALAMAKARA itu.

kalamakara

Ngomongin soal candi baik hindu dan budha pastilah kita gak luput dari sebuah relief pada candi tersebut. Sering sekali orang gak mengerti maksud dari relief tersebut. Kebanyakan di sekitar pintu masuk (umumnya di atas/tengah tembok jika terdapat jalan antara kiri dan kanan) terdapat sebuah relief  yang kita biasanya aku nyebut “BUTO KOLO”.Nah ternyata itulah yang dinamakan KALAMAKARA.

07010069

Ya jelas lah namane BUTO KOLO yo elek jelek ngelet dan metu gingsule koyok vampire yang ada di Amerika.  Memang gak kalah serem ya kalo ngomongin BUTO jelas vampire kalah telak seremnya. Relief  gambar wajah yang menakutkan yang ada di pintu masuk tersebut dinamakan KALAMAKARA. Mungkin kalo di tulungagung setiap masuk ke wilayah kota kita akan melewati patung reco pentung yang juga dengan wajah yang sama / identik dengan KALAMAKARA ini berwajah serem dan menakutkan.

Sebenernya ada maksud nya gak sih di kasih barang serem seperti itu? Ternyata menurut kepercayaan jawa KALAMAKARA ini berfungsi sebagai “Penolak Bala”. Biasa kita menyebutkan penolak sial atau penolak ancaman batin yang tidak tampak secara lahiriah. Dalam cerita Hindu dan Budha, KALAMAKARA itu awalnya berupa dewa yang tampan. Ia mendapat hukuman dan kutukan dari Sang Hyang Widi, berubah menjadi raksasa yang buas dan setiap binatang yang dijumpainya dimakan dan diterkamnya. Dan terakhir memakan tubuhnya sendiri dan tinggal kepalanya yang kita sebut KALAMAKARA itu.

Di Jogja sendiri di keraton masih banyak KALAMAKARA yang berada di dinding, pintu dll. Begitu juga di beberapa rumah yang arsitekturnya keraton jawa kuno masih terlihat sepasang relief yang berbentuk kepala di kiri dan kanan pintu. Jadi jangan salah kalo kita jumpai di tulungagung ada patung Reco Pentung yang serem dan membawa pentungan bukannya kita langsung mengasumsikan kalo itu merupakan patung sing nyeramkan tapi itu merupakan peninggalan jaman dulu yang percaya  KALAMAKARA sebagai penolak bala, begitu juga maksud dari Reco Pentung yang ada di tulungagung untuk penolak bala dari hal yang gak bisa kita nalar. Entah itu dari banjir wabah penyakit dll.  Jadi kalopun kita gak percaya tapi kita harus patut menghargai kebudayaan dan kepercayaan jaman dulu jangan sampai kita hancurkan kebudayaan sendiri dengan menghancurkan warisan tersebut. Ternyata beberapa candi di sekitar tulungagung banyak menerapkan relief tersebut mulai dari goa selomangleng Tulungagung dan beberapa candi  yang ada di tulungagnung.

21 Oktober 2009 - Posted by | Kebudayaan

6 Komentar »

  1. (maaf) izin mengamankan PERTAMA dulu. Boleh kan?!
    Menakutkaaaaaaaaaaaannnnn!!!
    Setan aja takut, apalagi saya?

    Komentar oleh alamendah | 21 Oktober 2009 | Balas

  2. itu mah bukan gingsul atuh .. tapi gigi yang tidak rata, klo rata jadinya kayak tukul.. monyong semua …

    Komentar oleh admin | 25 Oktober 2009 | Balas

  3. hehe…ternyata warisan nenek moyang kita gak kalah sama super hero laennya. kira2 van helsing sekalipun akan keteteran sama vampir satu ini… mau di pentung??apa dicium?hehe….

    Komentar oleh yudz | 29 Oktober 2009 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: