Symplexcamp's Corporation

Persembahan Hati Dari Jiwa Seorang Petualang

Menikmati Waduk Wonorejo Tulungagung dengan bersepeda

Wonorejo itu merupakan desa di sebelah barat kota Tulungagung yang dulunya desa terpencil dan lumayan jauh kira-kira 11 km dari pusat kota. Masih teringat sekali diwaktu kecil tahun 93-an di waktu SD kelas 3 an aku dan ayahku sering ke desa itu dengan vespa nya yang butut, sebenernya desa cukup padat penduduknya dan wisata yang ada hanya sebuah terowongan air saja yang kering kerontang dan kadang kita sempatkan masuk ke terowongan yang gelap gulita itu. Belom lagi jalan akses yang dulu hanya berupa jalan makadam (tanah berbatu) yang cukup buat perutku sakit harus aku tempuh hampir 2 Jam-an dengan vespa itu. Sebenernya waktu kecil aku sering kesana bukan karena wisatanya sekarang tetapi adanya bengkel bekas kendaraan dan alat berat yang ada di desa itu. Mungkin sebenernya proyek waduk itu sudah direncanakan lama sekali tetapi karena terkendala relokasi penduduklah yang menghambatnya. Masih ingat betul kendaraan berat yang menurutku sangat fantastis bergelimpangan dimakan usia karena terbengkalai. Sebuah eksavator yang cukup besarpun hanya jadi barang rongsokan yang tak berdaya, hal yang paling aku suka di tempat yang terbengkalai itu adalah sebuah kendaraan berat dengan roda 3 meter namun nasibnya sama halnya dengan besi rongsokan tua yang dimakan usia di dalam sebuah bengkel yang hanya terlindung oleh atap seng.

Sejak tahun 1996 an rencana pembangunan megaproyek itupun dilakukan, beribu dinamit diledakkan guna bembuat lubang bahkan meruntuhkan pegunungan yang ada dan membuat kubangan waduk yang begitu luas. Sungguh suatu kebanggaan jika beberapa orang menyatakan kalo itu merupakan waduk terbesar di asia tenggara. Walau aku dulu belum sempat melihat proyek pembuatanya namun sering kali aku dengar cerita dari teman2ku waktu SD yang pernah kesana dengan hartop (jeep) merasa takjub. Mungkin karena salah satu orang tua temanku merupakan salah satu pekerja di situ sehingga bisa masuk ke proyek tertutup itu.

Begitupun aku sungguh takjub ketika aku bermain ke bengkel timur  rumahku (timur vidia tirta) yang merupakan bengkel tempat pembuatan penyangga terowongan air. Bengkel yang sebenernya merupakan bengkel pembuatan kontainer barang itu dipercaya merancang saluran air. Seingatku penyangga saluran air yang berbentuk silinder itu diameternya 4 meter dan rancang bangunnya dipecah menjadi 4 bagian (seperempat lingkaran) dengan panjang 5 meter an dan akan di sambung  di lokasi waduk itu. Entah berapa seringnya aku terkena dampak macet saat truk2 kontainer keluar dari sarangnya sehingga aku harus berputar untuk menghindari macet jalan rumahku yang cukup sempit itu. Entah berapa tahun lamanya aku sudah tidak menyambangi proyek itu, namun tahun 2001 bulan oktober diwaktu SMA kelas 1 merupakan pertama kalinya aku kewaduk itu dengan mengendarai motor bersama teman-teman lewat srabah. Dan kali itulah aku hampir dipalak oleh para berandalan SMA lain.

Cukup lama juga aku baru berkunjung kesana lagi hingga akhirnya 7 tahun kemudian tepatnya oktober 2008 aku pun mencoba kesana dengan bersepeda bersama kekasihku tercinta. Kali ini perjalanan gak lewat srabah tetapi lewat Gunung Mbolo kebarat, dengan berangkat pagi2 jam 7 pagi aku segera bergegas mengayuh sepeda poligon ku dengan berboncengan dengan kekasih. Sungguh momen romantis dengan jalan yang agak menanjak aku berusaha mengayuh sepeda sekuat tenaga, sepeda yang seyogyanya digunakan di kota itu kukayuh melewati bukit kecil dan kadang pula aku harus rela turun karena jalan yang cukup menanjak.  Memang gak terlalu jauh hanya 11 km jalan kutempuh dan dengan pemandangan yang cukup menarik walau sebenernya pemandangan yang bagus itu bisa didapat dari jalan yang srabah itu.

IMG_6823

Cukup banyak juga yang berlalu lalang iring-iringan para biker sepeda gunung yang sudah pulang. Mungkin karena aku cukup siang datang kesana sehingga  cukup membuatku letih apalagi panas matahari juga terik. Memang waktu yang dibutuhkan gak lama hanya 1,5 jam saja dengan bersepeda aku sudah sampai ke tempat pendaratan helikopter. Dari situlah awal tanjakan terakhir yang harus aku lalui dengan berjalan kaki menuntun sepeda itu ya sekitar 1 km an lah. Sebenernya sangat indah pemandangan waduk tersebut tetapi panas terik matahari ternyata mengalahkan segalanya, apa lagi sedikit sekali tempat yang didapat dijadikan tempat berteduh.

Ternyata memang sangat berbeda sekali dengan saat dulu aku kesana waktu SMA, cukup ramai namun tetep sangat panas. Memang aku gak terlalu lama kesana apalagi kelelahan apalagi saat aku kesana tidak ada warung yang buka hingga jam 10.30 pun aku bergegas pulang. Air waduk pun juga sudah membentang, sangat berbeda saat jaman SMA yang masih dangkal.

IMG_6861

Kalo yang namanya pulang sih enak lha kebanyakan jalannya menurun tapi panasnya minta ampun. Aku juga menyempatkan diri mampir ke warung es dan minum sepuasnya. Dan jam 13.00 aku sudah sampai rumah kembali. Perjalanan 6 jam yang cukup melelahkan namun asyik. Ya mungkin ini salah satu alternatif berwisata dikota tulungagung dengan bersepeda.

7 Juli 2009 - Posted by | Uncategorized

9 Komentar »

  1. Pertamaxxxx

    Komentar oleh alamendah | 14 Juli 2009 | Balas

  2. Waduk yang besar dan indah keliatannya.
    Eit.. Judulnya perlu dirubah; Menikmati Waduk Wonorejo dengan Pacar….
    (ngaboooor)

    Komentar oleh alamendah | 14 Juli 2009 | Balas

    • ide bagus kui….jdne blog pribadi…hahaha iki sik libur mas blog e lowong wng2 penulise sik pensiun arep pendadaran…

      Komentar oleh Ferry Ogi Setiawan | 15 Juli 2009 | Balas

  3. CIe ROmantis’e jadi kelingan djaman mbiyen…hiks

    Komentar oleh rankga | 24 Juli 2009 | Balas

    • hahahah ngo ronggo po dianakne sepeda bersama ngunu cah AR? oleh ngowo pacare dewe2 ngunu lak asik…hiakakaka

      Komentar oleh Ferry Ogi Setiawan | 24 Juli 2009 | Balas

  4. Wah asyik ya waduknya
    kapan ya bisa maen kesana lagi
    Pengen banget,tapi aku ngga berani lau kesana ngga am temen aq

    Komentar oleh Enik Kertasari | 6 November 2009 | Balas

    • Ya nyari temen, aq jg pengen kesana lagi tapi hora enek temene mbak…..

      Komentar oleh Ferry Ogi Setiawan | 6 November 2009 | Balas

  5. Cie romantis banget
    Ikutan dunk
    Hehhehehehehe
    Emank ke waduk naek sepeda ngga capek ya

    Komentar oleh Enik Kertasari | 6 November 2009 | Balas

    • Namanya jg sepedahan mbak mesti da capeknya tapi ada senengnya juga sih. Lumayan kok 1jam 15 menitan klo ditempuh dari kota tulungagung. Main yukkkkkkkk hehehe

      Komentar oleh Ferry Ogi Setiawan | 6 November 2009 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: