Symplexcamp's Corporation

Persembahan Hati Dari Jiwa Seorang Petualang

Nenek penjual Bunga kering di Kaliadem mengais rejeki di tengah panasnya terik matahari

Kali adem, pasti orang mengira sekarang tempat itu masih sejuk dan nyaman. Mungkin dulu begitu, semenjak  diterjang wedus gembel tempat itu sudah sangat gersang, terik, panas. Panas yang terik lah gambaran sekarang, hanya hamparan pasir dan batu yang menumpuk seperti bukit, sekitar tempat ini hanya terdiri dari gubug2 penjual makanan di tepi jalan yang menjajakan es, makanan bahkan bunga2 kering yang di ambil dari hutan kaki merapi.

Saat aku datang  jam 10 siang terasa panas menyengat, namun karena saat itu hanya modal uang seadanya maka saya tidak menyempatkan diri mampir ke warung sekitar itu. Hanya 23 ribu itulah uang yang ku bawa saat itu dalam dompetku.  Hanya ada sebuah joglo yang masih berdiri kokoh namun akan sesak oleh pengunjung, sangat menjemukan berdesak2 an di sekitar joglo itu. Aku pun berjalan menuju ke barat ke sebuah bunker yang dulu menewaskan 2 relawan. Kesan pertama sungguh buat aku merinding saat masuk ke bunker tersebut, gelap.  Pintu baja setebal 20 cm pun masih berdiri kokoh tapi di dalam bunker tanah masih menyelimuti ubin tempat menjejakkan kaki kita.

Memori itulah yang akan digambarkan betapa dasyatnya  akibat terjangan wedus gembel sehingga disana tertulis “Dilarang menembang galian C di wilayah ini”, mungkin maksud disana adalah pasir2 atau batuan yang menumpuk yang biasanya di ambil para penambang di sungai timur lokasi ini(maklum penulis gak tau jenis bahan galian C itu seperti apa, lha yang tau mungkin anak teknik sipil) ^_^.

Tak jauh dari bunker tersebut atau 100 meter barat bunker ada 2 nenek yang menjual bunga kering (mirip edelweis , bahkan bunga rumput pun dijual dengan warna2 yang menarik). Mungkin nenek ini hanya segelintir orang yang belum dapat mendirikan gubug-gubug dagangan di sekitar area tersebut. Hanya bermodal kardus bekas untuk meletakkan dagangan dan beratapkan langit yang sangat terik sang nenek menawarkan dagangan. Aku sebenernya kasihan juga sama nenek tua itu, tapi apa daya uang pas2 an, belum lagi bensin kosong ditangki, belum lagi kalo pulang nanti nya ada apa-apa kan jauh dari ATM, pengen beli tapi kok malah kasihan juga ngeliat tanaman tersebut di jual, maklum sebagai seorang pendaki gunung mungkin juga merasakan betapa susahnya rumput2 yang tumbuh liar itu berjuang dengan hawa yang dingin di malam hari, dan panas yang terik namun sekarang nasib tumbuhan itu hanya menjadi pajangan ato mungkin kadang terbakar begitu saja oleh ulah manusia yang sengaja membakar buat memperlebar lahan tanaman mereka. Itulah nasib sebuah tanaman gunung, namun itu adalah mata pencaharian sang nenek yang berkecimpung naik turun gunung hanya untuk mengolah rumput dan tanaman tersebut sebagai penghasilan mereka.

IMG_1726

Untuk mengambilnya pun cukup jauh juga karena penulis sudah mencoba menjelajahi hutan sekitar kaki merapi itu, 2-4 kilo mereka berjalan untuk sekedar mencari rumput ternak sekaligus mencari tanaman yang akan dikeringkan sebagai tambahan penghasilan mereka. Walau jalannya dilarang untuk pengunjung tapi penulis sebenernya sangat tertarik dengan potensi di sekitar kaliadem sehingga penulis nekat juga mengeksplore kaki merapi ini dan saya tuliskan dalam tema yang lain di blog saya atau klik di sini. Jalannya tidak begitu terjal namun cukup sulit juga menjangkau tanaman sejenis edelweis itu karena rata-rata tumbuh di tempat yang cukup curam ketinggiannya. Hewan yang menghuni habitat sekitar kaliadem hanya kera dan burung.

Saat saya kembali ke lokasi sang nenek pun tidak beranjak satupun untuk berteduh di pohon 10 meter dari lokasinya berjualan, tak satupun pembeli datang dan sang nenek hanya berusaha meyakinkan pembeli bahwa tanaman ini hanya ada di lokasi ini. Keringat pun tak lepas bercucuran dari dahi sang nenek, dengan bahasa jawa yang mungkin tidak banyak dimengerti oleh masyarakat kita pada umumnya, bahkan bule2 dari india, amerika, belanda, jepang pun tak segan2 ditawarkan walau dengan bahasa jawa bahkan dengan bahasa tubuh yang seadanya mereka menawarkan bunga2 yang dianggapnya takkan pernah layu oleh jaman ini.

IMG_1727

Mungkin inilah kelemahan dari berjualan di terik panas matahari, pengunjung pun jarang berlama-lama memilih bahkan jika tidak cocok pun mereka keburu meninggalkan sang nenek, sang nenek pun sendiri merenung sambil membenarkan penutup kepala yang merupakan satu-satunya pelindung dari sengatan matahari. Mungkin hanya pakaian yang membedakan masyarakat di sana yang umumnya sudah modern tetapi sang nenek masih eksis memakai pakaian sejenis kebaya dan pertapih jarit. Sangat kontras dengan pedagang yang sudah mendirikan gubug-gubug disisi jalan yang memakai pakaian modern.

Mungkin ini hanya sebagian gambaran perjuangan seorang nenek yang berjuang menghidupi dirinya cucunya atau mungkin keluarga besarnya. Walau saya sendiri saat itu belum bisa membantu namun saya berusaha menuliskan apa yang bisa menggambarkan perjuangan sang nenek menjual dagangan di tengah panas terik matahari dan juga berusaha bersaing dengan pedagang yang sudah berdiri kokoh di gubug mereka. Ya semoga apa yang saya tuliskan ini ada manfaatnya. Hargai orang tua kita, nenek kakek kita bahkan orang yang mungkinada dihadapan kita. Jangan lupa menghargai karya orang lain, Cukup sekian review saya, saya ucapkan terimakasih, jangan lupa kasih komentarnya, tapi jangan kayak yang komen  blog saya yang berjudul  “Membeli Lopis Sang Kakek Makanan yang uzur yang ditelan waktu” itu semua memojokkan penulis. he2x.

25 Juni 2009 - Posted by | Catatan perjalanan, Curahan Hati, Uncategorized

4 Komentar »

  1. info yg bermanfaat, makasih ya….

    Komentar oleh Cerita Dewasa | 8 Juli 2009 | Balas

  2. ^^wah wah mas…aq jd terharu bener membacanya…
    baru aja kemarin hari minggu, 13 desember 2009
    aq bersama temen2ku mengunjungi kaliadem.dan ku lihat mbah2 itu masih berjualan bunga itu…
    khusus untuk aq, sungguh aq bener2 takjub dgn keadaan kaliadem sekarang setelah 3 tahun terkena bencana itu.
    terakhir kalinya aq datang ke kaliadem tahun 2004 yang lalu.
    benar2 berbeda.. tak habis bibir ini mengucapkan kata2 keheranan dan takjubku sampai2 temen2ku bilang aq lebai..
    dan pertama kali yg aq cari sesampai di kaliadem adalah bunker yg telah menewaskan 2 orang relawan. sungguh aq penasaran banget dgn t4 itu. dan akhirnya kemarin aq bisa masuk dan foto di dalam bunker tsbt. bahkan temenku sempet ngambil gambar kamar mandinya.
    tetap smangat u/ menulis mas…
    ^_^

    Komentar oleh nyamtie | 14 Desember 2009 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: