Symplexcamp's Corporation

Persembahan Hati Dari Jiwa Seorang Petualang

Catatan Perjalanan: Menapak Kembali Memori Team Survey Arismaduta di Pantai Ujung Pakis

Siapa sangka penemuan pantai Sanggar yang jadi pantai favorit di kalangan pecinta alam Arismaduta (pecinta alam SMA 1 Boyolangu) sebenernya hanya tercetus dari ide iseng belaka setelah kita dapet satu set peta topografi Tulungagung lengkap sekitar awal tahun 2003 an dari anggaran sekolah dan akhirnya kita eksplore pantai-pantai alami di seluruh tulungagung dari yang jarang dijamah. Mulanya perjalanan pantai itu hanya dari sebuah survey pantai yang sangat nekat, tapi berkat perjalanan team ini kita jadi semakin mengeksplore semua pantai di Tulungagung.

Sebenarnya peta topografi yang didapat banyak sekali mulai dari pesisir Blitar, Malang, Trenggalek, Pacitan dll tapi entah kenapa begitu liat hamparan pantai yang ada di pesisir pantai Tulungagung saat itu Fajri (Ketua Arismaduta waktu itu), Topan, Sodik, Aksan,Noko, aku sendiri, dan banyak anak arismaduta yang sering nongkrong bersama di depan rumah fajri langsung tergugah ide untuk melakukan susur pantai karena sudah lama kita vakum dalam mengeksplore kekayaan pantai yang ada di kota kita sendiri. Mungkin rencana susur pantai itu diadakan sekitar bulan maret/april 2002 sebelum kelas 3 UAN (Lupa sih soalnya maklum gak ada dokumentasinya bentuk digital saat itu) sebagai program yang baru dari arismaduta yang merupakan awal dari program yang sekarang di lakukan yaitu aplikasi. Saat itu sepertinya nama yang cocok Navigasi Pantai karena kita bakalan eksplore pantai sepanjang kurang lebih 3 karvak ya sekitar 10 km an lah dari Ujung pakis sampai pantai Sine (ya mungkin kalo diitung secara garis pantai sekitar 15 km an lah). Rencana nya sih ditempuh dalam waktu 3 hari 2 malam dengan start awal Pantai Ujung Pakis yang merupakan pantai  10 km timur Popoh atau sekitar 5 km dari pantai klathak. Tapi karena saat itu kita belum tau lokasinya ya haruslah kita survey dulu sebelum melakukan Ekspedisi Susur pantai tersebut.

Rencana awal sih kita berembug dan saat itu ya kita harus cari informasi secara spesifik ke desa terakhir yang dapat di tempuh, dan saat itu kita blank gak tau cara akses kesana. Ya dengan berbekal informasi cara akses ke pantai sine yang merupakan lokasi akhir yang sebenarnya, dan keputusan kita rencanakan survey hari Minggu. Sebenarnya banyak sekali yang pengen ikut saat itu, tapi sangat disayangkan banyak yang berhalangan belum lagi masalah kendaraan yang masih belum tau berapa jumlahnya, termasuk si Aksan ma sodik yang pengen ikut saat itu tapi ternyata hanya di dapat 2 kendaraan yang standby yaitu kendaraan topan dan kendaraanku saja. Waktu yang disetujui jam 7 sudah harus standby di tempat Fajri , dan saat itu yang hadir hanya aku yang dah siap, tapi kenyataanya saat ditunggu sampai jam 8 cuma nambah 1 ekor si noko dengan motor Ferrari merahnya (Yamaha 75) wkakak. Si topan nampaknya masih molor deh di Gondang. Dan dengan terpaksa kita telpon rumah topan karena hanya dia yang sering ke Tanggung gunung. Dengan menunggu penuh cemas akhirnya topan datang  juga jam  9.30. Wah dah molor lagi nih rencana, ternyata banyak yang menyatakan batal karena gak ada motor termasuk aksan ma sodik, sebenarnya ada 1 motor ferari merahnya noko tapi apa mungkin diandalkan buat naik turun gunung? Dari pada repot ya udah deh sepakat berangkat berempat saja (Aku, Fajri, Topan dan Noko).

Persiapan pun dilakukan hanya berbekal poto kopian peta dan kompas kita berangkat, tidak lupa kita bawa air dan makanan kecil. Saat itu aku hanya bawa biskut kecil dan wafer serta sebotol aqua 600ml.  Fajri bawa verples nya dan kita sempat membeli air botol 1,5 literan. Berangkat deh tujuan utamanya kita ke jurusan tanggung gunung via campurdarat. Dari campur darat kita menuju ke ngentrong yang merupakan pertigaan ke arah tanggung gunung. Dari sana kita gak ada masalah dan perjalanan lancar hingga akhirnya kita sampai ke pertigaan yang menunjuk ke desa jengglung harjo. Didesa ini kita sempat cari info ke kepala desa agar bisa tau kondisi pantai, ternyata desa jengglung harjo terlalu jauh dan kita disuruh ke kepala dusun ngelo (merupakan desa pesisirnya) yang bernama pak Bero. Yaudah deh kita langsung menuju ke desa tersebut. Ya sempat pula bertanya pada penduduk sekitar yang ramah tamah rumahnya pak kasun dan akhirnya kita ketemu rumah pak bero. Sayang seribu sayang ternyata pas waktu itu pak bero sedang berladang, dan kemungkinan pulang selepas makan siang. Padahal saat itu masih sekitar jam 11.30 an. Dengan sabar kami menanti dan ternyata orang yang ditunggu pun tiba.

Dirumah pak bero kita sempat mengintrogasi mengenai kondisi pantai dan cara aksesnya sambil dihidangkan teh panas dan sesisir pisang mas yang kecil-kecil dan manis itu. Nikmat sekali sambil mendengarkan pak bero melantunkan ceramahnya. Sebenernya kalo dijelasin mah susah untungnya kita dibikinkan peta ya namanya peta sederhana jd ya maklum aja kalo penunjuk nya hanya 100 meter lah dll yang jelas sih orang sana menyebut ke ujung pakis itu Jam 12.30 kita pun bergegas  karena katanya sih ke ujung pakis hanya perlu 1,5 jam.

Sambil pamitan kita survey ternyata pak bero berbaik hati memberikan 2 sisir pisang sebagai oleh2 sekaligus mengisi ulang air minum yang telah berkurang. Kita pun pamitan dan lewat belakang rumah pak bero, ternyata saat melangkah pertama kita sudah disuguhi tanjakan cukup buat kaki pegel karena sudah 2 jam kita berkendara motor. Ditengah jalan pun kita sering ketemu dengan penduduk, entah mereka bilang kalo jalannya naik terus sampai bukit yang paling tinggi eh ternyata kita nyasar juga berkali2 kita coba nyari jalan akhirnya ketemu juga setelah kita menerobos ladang penduduk. Maklum saja jalannya kurang terlihat saat itu cos habis kehujanan dan tanahnya cukup gembur sehingga kita mengira itu bekas cangkulan penduduk saat itu. Ya sekiranya kita saat itu berpikir untuk mencari titik tertinggi nya saja dengan cara melibas ladang penduduk yang terdiri dari padi dan beberapa ketela pohon.

Akhirnya tanjakan pertama dah dilewati, sambil menikmati pemandangan pantai sine dari kejauhan kita pun melanjutkan. Dari situ kita berempat mengikuti arahan kebarat 50 meter dan banting kekiri (ditandai dengan pohon besar, tapi terakhir ku dengar pohonnya sudah ditebang) menuju ke arah sungai. Ternyata apa yang dibilang sungguh berbeda, bilangnya 50 meter padahal lumayan jauh juga pa lagi juga ada tanjakan sedikit. Kita pun mengikuti petunjuk ke selatan hingga kita menuju sungai, lumayan jauh namun terasa sejuk sekali  karena pohon masih rindang ya sekitar 30 menitan kita sampai sungai.Dari sungai itu kita terus dan mulai menanjak lagi melewati 3 bukit yang arahnya akan semakin berbelok kebarat, lumayan terjal apalagi sekeliling ditumbuhi batang bambu kecil yang tajam2 belum lagi tanahnya berupa tanah liat sangat licin. Hingga seperti yang dijelaskan pak bero nanti kita bakalan nemuin jalan kekiri yang akan menuju ke pantai ujung pakis namun sudah hampir 1 jam kita berjalan dari sungai kok belum terlihat tanda2 pertigaan yang disebutkan, padahal suara ombak sudah sangat terdengar jelas sekali.

Dengan berbagai pertimbangan kita akhirnya potong kompas ke arah selatan dengan hanya modal kompas dan ciri pohon sejenis palem yang sepertinya sudah mati dan saat itu terlihat hanya ada sebuah saja. Kita pun saling terjang, loncat kiri loncat kanan,lewat batang pohon yang tumbang kok spertinya kita semakin tersesat. Tapi kita tetep sabar dengan tidak lupa memberi tanda dengan mematahkan dahan agar nanti kita bisa kembali dengan jalur yang sama. Sebenernya saat itu aku ngerasa aneh banget sepertinya kita hanya berputar2 saja, lewat pohon yang sama pula. Tapi kita tetep berpatokan klo ke arah selatan pasti deh sampai pantai. Ya akhirnya kita tiba di tepi sebuah sungai yang dalam, tingginya 4 meteran lah namun si sungai itu hanya ada sedikit air dan banyak batu2 an menyerupai karang.

Sepertinya kita semakin dekat dengan pantai dengan menyusuri sungai itu, akhirnya jam 3.15 sore kita pun melihat hal yang gak terduga setelah pantai terlihat, memang gak salah deh ini yang dinamakan Ujung pakis pantai yang sempit seperti teluk kecil dan seperti digambarkan kalo di sisi barat 5 km an akan terlihat rumah2 yang ternyata itu adalah pantai klathak (nanti akan saya bahas di blog pada kesempatan selanjutnya). Sebenernya pantai ujung pakis yang sempit ini cukup bagus, andaikan tidak banyak sampah berserakan. Sampah ini bukan merupakan hasil orang bermalam tetapi sampah2 dari para nelayan(jaring ikan), wisatawan(sandal,sepatu, topi,kayu, kelapa) yang disandarkan oleh ombak saat pasang. Huh sangat disayangkan tapi sangat dimaklumi karena pantai ini berhadapan dengan pantai popoh yang ramai dikunjungi wisatawan, apalagi pantainya hanya berupa teluk sempit jelas bakalan jadi titik terakhir ombak yang membawa kotoran itu. Pantai ini hanya selebar 200-300 meter saja namun pasirnya cukup putih dan halus.

Dari pantainya bagus sekali karena dihadapan kita adalah karang yang tinggi 10-15 meter yang membentengi kita, pas kita lihat kompas sih arah pantai ini ke barat dengan kata lain sisi selatan terlindung dari hempasan ombak karena ada bukit karang yang ditumbuhi hutan yang lebat, kalo di peta sih sekitar 4-5 kontur dengan kata lain tingginya 100 meter an. Sedangkan sisi barat langsung berhadapan dengan pantai klathak yang sudah lebih terkenal. Di sebelah utara akan terlihat tebing 20 meteran sebagai tempat favorit pemancing dari atas tebing tersebut. Di pantai inilah kita sempatkan beristirahat dibawah sebuah gubug yang hanya berupa atap anyaman bambu sebagai perlindungan para pemancing disaat hujan,memang cukup sepi sekali pantai ini yang hanya didatangi para pemancing dan juga para pemburu hewan. Ya namanya juga cukup capek ya kitas sempatin istirahat 1 jam an sambil menghabiskan bekal berupa pisang dan beberapa keping biskuit. Laper juga sih lha tenaga terkuras tapi bekal nya sangat minimalis. Yang terpenting kita sudah tau lokasi dan jalannya walau tadi potong kompas.

Gak terasa dah jam 4.30 dan karena takut kemaleman kita pun segera bergegas mencari jalan potong kompas tadi. Aneh sungguh aneh, jalan yang sudah kita tandai dengan potongan ranting dahan gak terlihat padahal hari makin gelap padahal kita gak membawa senter. Dengan bekal mata telanjang kita mencoba menerobos masuk hutan kembali ke arah utara dan seperti sebelumnya kita sepertinya di puter2 ma hutan ini, pohon yang terlihat seperti palem putih ternyata sangat banyak padahal selama perjalanan berangkat kita hanya menemukan 1 pohon saja. Dengan komat kamit ketakutan kita pun berdoa dan alhamdulilah kita menemukan jalan utama dan kita segera bergegas maklum kita takut kemalaman cos gak bawa senter masalahnya. Setelah menyebrangi sungai ternyata karena saking semangat nya pe kita kaget begitu tiba2 ada suara “krasak” diatas pohon ternyata seekor kera (klo gak salah liat sih ada warna merah2nya gitu) gak tau itu jenis apa dan kita pun lari pontang panting dan yang mengalami kram pertama saat itu topan, padahal baru pertama kalinya aku lihat topan mengalami kejang otot dan disusul insiden ke dua aku pun ikutan kram kaki. Dengan langkah kesakitan kita mencoba  segera mungkin sampai ladang penduduk (di tanjakan pertama saat berangkat). Dan gak terasa sudah magrib saat itu jam 6 sorean lah dan kita pun pulang dengan keadaan mata yang dah lelah serta tanpa penerangan menuju kerumah pak bero dengan langkah gontai serta sering tersandung batu.

Jam sudah menunjukkan jam 6.30 sore dan kita pun beristirahat sejenak untuk melepas lelah dan segera mungkin balik ke tulungagung lewat kalidawir. Gak terasa jam 8 kita nyampe kota tulungagung kembali kehabitat asli setelah 12 jam kita berburu dengan waktu untuk survey pantai unung pakis yang merupakan awal petualangan menamukan pantai sanggar yang mempesona itu. Kita juga sempatin mampir ke warung nasi pecel di utara Gleduk yang terkenal itu. Huh sungguh melelahkan berpetualang hanya dengan bekal air,biskuit dan pisang pemberian  kasun/kepala dusun pak bero namanya.

Ini foto deretan pantai yang membentang dari pantai klathak (timurnya popoh) sampai pantai sine. Untuk memperbesar tinggal klik aja fotonya.^_^

Foto Ujung pakis belum di scan jadinya saya tunjukin aja lokasinya ya!!! Maklum saat jaman itu hanya punya kamera biasa/klise, lagi pula belum punya scan masih berupa foto dan berada di rak dokumentasi Arismaduta. Ya jika ada yang mau ngirim file nya dari pihak AR ya terima kasih seingatku kalo gak salah sih bentuknya afdrek an yang ada fotonya “lagi nambal kepala yang bocor Anak Arismaduta  yen gak salah si Yudi karya opo Rangga ngunu aku lali masalahe”.

Tidak lupa kuucapkan terimakasih kepada Allah SWT yang telah memberiakn petualangan dan keselamatan, serta pak bero atas tambahan bekal pisang masnya, jg trima kasih kepada team survey saat itu “TOPAN SAGITA”,”FAJRI”,NOKO” yang menjadikan kita tim pertama yang membuka ekspedisi pantai yang selanjutnya mencari pantai dengan seribu keindahan pantai sanggar.  Kita harus bangga karena berkat kerjakeras kita ekspedisi yang selanjutnya dapat berjalan dengan baik dengan membawa tim yang lebih banyak sekitar 15-20 orang.

7 Juni 2009 - Posted by | Catatan perjalanan

4 Komentar »

  1. wah koq ceritane podo 8 jam-e nyasar nang Pantai,,bedane aq nyasar arep nang sanggar n awkmu nyasar nang pantai ujung pakis,,ayo fer lanjutkan berkarya!!!semangat!!

    Komentar oleh zein ganteng | 9 Juni 2009 | Balas

    • wakaka lak kon iku rodok hank lha wis tau mrono bola bali kok sik nyasar, yen iki kan mergo pertama kali tho dadike maklum yo yen keliru dalan lha wis survey koyok ngene wae ki pas hari H ne wae sik nyasar mun!! kon kae pa yoan melu?

      Komentar oleh Ferry Ogi Setiawan | 9 Juni 2009 | Balas

  2. Hahaha kelingan djaman SMA kelas 1 ekspedisi nang Watu Gebang. Jan ekpedisi yang sangar malam2 ilang nang hutan tapi akhirnya nemu ujung pakis

    Komentar oleh Rankga | 15 Juni 2009 | Balas

    • iyo nggo po meneh aku sing dadi team bidik membidik pas budale mergo klambine sing orange2 kan jelas wengi2 po meneh pas aku jan alon2 ki nang ngarep dewe grayah2 sikile maju sithik2 mergo wedi yen tiba2 ki wis tebing nang ujung pakise…wakaka. Ancen yen enek topan ki jian wedi kabeh pas kui..

      Komentar oleh Ferry Ogi Setiawan | 15 Juni 2009 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: